Pemalang, Publikatodays.com — Krisis pengelolaan sampah di Kabupaten Pemalang dinilai kian mengkhawatirkan. Selain belum ditemukannya solusi konkrit pasca penutupan TPA Pesalakan, potensi lonjakan limbah operasional Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) dikhawatirkan menjadi ‘bom waktu’ baru bagi lingkungan lokal.
Berdasarkan analisis lingkungan, setiap Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menghasilkan rata-rata 80 kilogram sampah harian.
Dengan beroperasinya sekitar 163 SPPG di Pemalang, potensi tambahan limbah diperkirakan mencapai belasan ton per hari. Padahal, volume sampah rumah tangga dari 14 kecamatan saat ini telah mencapai 150 hingga 200 ton per hari.
Perwakilan Aliansi Pemalang Lestari, Aditapa, menyebut daya tampung sampah di wilayahnya sudah sangat kritis. Lahan penampungan di Dusun Slarang, Desa Surajaya, dilaporkan telah melebihi kapasitas (overload), sementara fasilitas Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) belum bekerja maksimal.
”Lahan di Slarang sudah overload. Mesin TPST yang ada juga belum mampu mengolah ratusan ton sampah per hari. Lantas sampah mau dibuang ke mana lagi?” ujar Aditapa, Sabtu (24/10/2026).
Aditapa mendesak adanya sinergi dan tanggung jawab dari para pelaku usaha maupun pengelola MBG agar tidak sekadar mengambil keuntungan ekonomis, tetapi juga mengelola limbah yang dihasilkan.
Kritik senada disampaikan Perwakilan Aliansi Kesetiakawanan Sosial, Hamu Fauzi. Ia menegaskan agar pengelola Dapur MBG membuat sistem pengolahan sampah mandiri agar tidak semakin memperberat beban Pemerintah Kabupaten Pemalang.
Hamu secara tajam menyoroti metode penanganan sampah Pemkab Pemalang saat ini yang dinilainya belum menyentuh akar masalah.
”Insinerator milik Pemda memang sudah jalan, tetapi masih over capacity. Akibatnya, sisa sampah masih dikubur. Ini penanganan dengan metode ‘kucing buang kotoran’ hanya menyembunyikan masalah tanpa menyelesaikannya,” tegas Hamu.
Aliansi mendesak pemangku kebijakan dan pengelola program MBG segera duduk bersama merumuskan langkah konkret penanganan limbah sebelum dampak darurat sampah semakin meluas di Pemalang. (TIM AWPB)














