Karimun, publikatodays.com– Dugaan pembagian menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak layak konsumsi kepada siswa SDN 001 Kundur Barat menuai perhatian publik. Insiden tersebut disebut terjadi pada Kamis (26/2), bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 H.
Berdasarkan laporan Media24jam.com, seorang wali murid berinisial PG mengungkapkan bahwa anaknya menerima paket MBG berisi roti berjamur serta buah salak dalam kondisi busuk. Selain itu, kue jenis cake juga disebut dalam kondisi tidak layak konsumsi. PG juga menyampaikan bahwa dalam dua hari sebelum kejadian, siswa hanya menerima makanan ringan sebagai menu MBG bukan makanan bergizi sebagaimana yang diamanatkan dalam program tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kundur Barat berinisial S menyampaikan klarifikasi. Ia menyatakan bahwa tidak seluruh makanan dalam paket tersebut rusak.
“Kami tidak bisa mengecek satu per satu. Tidak semuanya rusak, hanya beberapa buah salak yang busuk,” ujarnya seperti dikutip Media24jam.com.
Ia menambahkan bahwa penggantian menu baru akan dilakukan pada hari Senin beberapa hari setelah kejadian berlangsung. Hingga berita ini diturunkan, pihak pemasok makanan belum memberikan keterangan resmi.
Pernyataan tersebut memicu respons dari pemuda Kabupaten Karimun, Okta Alam Syah. Ia mempertanyakan standar pengawasan dan tanggung jawab pihak pelaksana program dalam memastikan kelayakan makanan sebelum didistribusikan kepada siswa.
Menurut Okta, persoalan ini tidak semata-mata soal jumlah makanan yang rusak, melainkan tentang sistem pengawasan dan akuntabilitas yang seharusnya melekat pada jabatan tersebut.
“Jika Bapak tidak mampu memastikan makanan yang Bapak distribusikan layak dimakan, maka dengan hormat Bapak tidak layak memegang jabatan itu,” tegasnya.
Okta juga mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme distribusi dan kontrol kualitas dalam program MBG, agar kejadian serupa tidak kembali terulang di sekolah-sekolah lain di Kabupaten Karimun.
“Ini bukan soal satu atau dua roti yang kebetulan berjamur. Ini soal sistem pengawasan yang tidak berfungsi, pejabat yang tidak merasa bertanggung jawab, dan anak-anak yang tidak punya pilihan selain memakan apa yang diberikan negara kepada mereka,” Ucap Okta.
Program MBG pada dasarnya bertujuan mendukung pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah di seluruh Indonesia. Namun insiden di Kundur Barat ini menjadi pengingat keras bahwa program sebesar apapun tidak akan berarti tanpa pengawasan yang konsisten, akuntabilitas yang jelas, dan tanggung jawab penuh dari setiap pihak yang terlibat dalam pelaksanaannya.














