Batam, publikatodays.com— Tata kelola dan distribusi air bersih di Kota Batam kembali menjadi perhatian publik. Panglima Gagak Hitam, Udin Pelor, mempertanyakan transparansi pengelolaan serta mekanisme distribusi air bersih, khususnya terkait informasi mengenai dugaan pasokan air dalam jumlah besar untuk kebutuhan sejumlah mal dan hotel di Batam.
Udin Pelor meminta persoalan tersebut tidak berhenti sebagai isu yang berkembang di tengah masyarakat. Menurutnya, apabila informasi mengenai pasokan air dalam jumlah sangat besar hingga disebut mencapai ratusan ton tersebut benar, maka diperlukan penjelasan resmi mengenai sumber air, mekanisme distribusi, volume penggunaan, pihak penerima, serta dasar aturan yang digunakan.
«“Kalau benar ada pasokan air sampai ratusan ton ke mal dan hotel, ini harus dijelaskan secara terang. Dari mana airnya, bagaimana mekanismenya, berapa volumenya, siapa yang mengawasi dan bagaimana pencatatannya?” tegas Udin Pelor.»
Menurut Udin, kebutuhan air bagi sektor perhotelan, pusat perbelanjaan, maupun dunia usaha merupakan hal yang wajar. Namun, penggunaan air dalam skala besar harus berjalan seiring dengan prinsip transparansi dan keadilan dalam pelayanan kepada masyarakat.
Sorotan tersebut menjadi semakin penting karena air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Di tengah kondisi ketersediaan air baku yang perlu dijaga, publik dinilai berhak mengetahui bagaimana distribusi air dilakukan, terutama kepada pelanggan dengan kebutuhan dalam jumlah besar.
Udin menegaskan bahwa sorotan tersebut bukan dimaksudkan untuk menghambat kegiatan usaha maupun sektor pariwisata.
«“Mal dan hotel tentu memiliki kebutuhan air. Itu kita pahami. Tetapi jangan sampai masyarakat kecil mengalami kesulitan mendapatkan air sementara muncul informasi mengenai distribusi dalam jumlah besar kepada sektor komersial,” ujarnya.»
Karena itu, ia meminta pihak berwenang melakukan pemeriksaan terhadap data distribusi air, khususnya pelanggan dengan konsumsi besar.
Menurutnya, sejumlah hal yang perlu dibuka dan diverifikasi antara lain volume pemakaian, pencatatan meteran, sumber pasokan, mekanisme distribusi, dasar perizinan, serta sistem pengawasan yang diterapkan.
«“Yang kita minta bukan tuduhan. Kita minta transparansi. Kalau semuanya sesuai aturan, tentu masyarakat akan lebih mudah memahami. Justru keterbukaan data akan membuat publik percaya,” kata Udin.»
Ia juga meminta agar tidak terjadi kesenjangan pelayanan antara kebutuhan masyarakat dengan kepentingan pelanggan komersial.
“Air bersih adalah kebutuhan dasar. Jangan sampai persoalan distribusi menimbulkan kesan bahwa pelanggan tertentu mendapatkan prioritas sementara masyarakat mengalami kesulitan,” tambahnya.
Di sisi lain, pengelolaan air bersih Batam selama ini melibatkan sistem penyediaan air baku, pengolahan dan jaringan distribusi yang membutuhkan pengawasan secara berkelanjutan.
Karena itu, menurut Udin, persoalan yang berkembang di masyarakat sebaiknya dijawab dengan data dan penjelasan resmi, bukan sekadar pernyataan normatif.
Ia berharap pihak yang memiliki kewenangan segera memberikan klarifikasi mengenai informasi dugaan pasokan air dalam jumlah besar tersebut.
«“Kalau informasinya benar, jelaskan datanya. Kalau tidak benar, luruskan juga dengan data. Kalau semuanya sesuai aturan, sampaikan kepada masyarakat. Tetapi kalau ditemukan pelanggaran, tentu harus ditindak sesuai ketentuan,” tegasnya.»
Udin menambahkan, transparansi pengelolaan air bersih penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan kebutuhan dasar warga tetap menjadi prioritas.
“Air bersih bukan sekadar komoditas. Ini kebutuhan masyarakat. Karena itu tata kelolanya harus transparan, distribusinya harus adil, dan pengawasannya harus jelas,” pungkasnya.
Catatan: Informasi mengenai dugaan pasokan air dalam jumlah besar kepada mal dan hotel tersebut masih memerlukan verifikasi serta klarifikasi dari pihak terkait. Publikasi ini menempatkan informasi tersebut sebagai sorotan dan pertanyaan untuk memperoleh penjelasan resmi.















