Jakarta, publikatodays.com– Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak hanya membutuhkan energi listrik, tetapi juga dapat berdampak pada konsumsi air. Hal ini berkaitan dengan operasional pusat data (data center) yang menjalankan ribuan server untuk memproses berbagai permintaan digital.
Server AI bekerja dengan beban komputasi tinggi yang menghasilkan panas. Untuk menjaga perangkat tetap beroperasi secara optimal, fasilitas data center membutuhkan sistem pendinginan yang bekerja secara berkelanjutan.
Salah satu metode yang digunakan adalah pendinginan berbasis air. Air berfungsi menyerap panas dari peralatan server, sementara sistem cooling tower membantu melepaskan panas ke udara. Dalam proses tersebut, sebagian air dapat menguap sehingga perlu diganti.
Selain untuk pendinginan, konsumsi air juga dapat terjadi secara tidak langsung melalui proses pembangkitan listrik yang digunakan oleh pusat data.
Meski demikian, klaim bahwa server AI membutuhkan jutaan liter air perlu dilihat berdasarkan konteksnya. Angka tersebut umumnya berkaitan dengan operasional fasilitas dalam skala besar dan periode tertentu, bukan berarti setiap percakapan dengan AI secara langsung menghabiskan jutaan liter air.
Besarnya konsumsi air bergantung pada sejumlah faktor, termasuk kapasitas pusat data, jenis teknologi pendinginan, lokasi fasilitas, kondisi iklim, serta sumber energi yang digunakan.
Di tengah meningkatnya penggunaan AI, efisiensi energi dan air menjadi tantangan penting bagi industri teknologi. Pengembangan sistem pendinginan yang lebih hemat air serta penggunaan energi yang lebih efisien diperlukan agar pertumbuhan teknologi digital tidak menambah tekanan terhadap sumber daya lingkungan.
Dengan demikian, persoalan utama bukan sekadar penggunaan AI dalam satu percakapan, melainkan bagaimana infrastruktur yang menopang teknologi tersebut dikelola secara efisien dan berkelanjutan.














