Kades Sirangkang Terancam Meja Hijau Terkait Dugaan Kekerasan dan Intimidasi Terhadap Perempuan Penagih Hutang

 

​Pemalang, Publikatodays.com – Oknum Kepala Desa (Kades) di wilayah Kecamatan Petarukan, berinisial WD, resmi dilaporkan ke pihak kepolisian atas dugaan kekerasan terhadap seorang karyawan leasing perempuan berinisial RAS. Insiden yang memicu kecaman publik ini bermula saat korban melakukan penagihan tunggakan di kediaman pelaku pada Rabu (25/3).

​Kapolsek Petarukan, AKP Amroni, mengonfirmasi bahwa laporan tersebut telah diterima dan sedang dalam tahap penyelidikan.

“Laporan sudah masuk dan saat ini masih dalam proses lidik,” ujar Amroni, Sabtu (28/3).

Korban menjelaskan bahwa peristiwa terjadi sekitar pukul 10.30 WIB. Saat itu, ia datang dengan itikad baik untuk menagih angsuran motor. Namun, WD diduga emosi hingga melakukan tindakan fisik berupa pencekikan leher sebanyak dua kali. Tak hanya itu, korban mengaku diancam akan dilempar benda keras dan diancam secara verbal.

​”Pak Kades sempat berkata, ‘Kalau kamu laki-laki sudah saya bacok, awas kalau bertemu lagi’,” ungkap RAS menirukan ancaman pelaku.

​Di sisi lain, WD berdalih dirinya tersinggung oleh ucapan korban yang dianggap merendahkan martabatnya. Ia mengaku hanya terlibat adu argumen karena meminta penangguhan pembayaran dan menantang korban untuk melapor ke polisi jika tidak terima.

Kuasa hukum korban dari LBH Jong Java, Adv. MC Danil, S.H., mengecam keras tindakan arogan oknum pejabat publik tersebut. Danil menegaskan akan mengawal kasus ini menggunakan jeratan Pasal 466, 488, dan 449 UU KUHP baru terkait kekerasan terhadap perempuan.

​”Ini tindakan yang tidak bisa dimaklumi. Korban mengalami trauma psikis akibat kekerasan fisik dan ancaman saat menjalankan tugas sahnya. Kami akan mengawal kasus ini hingga ke meja hijau,” tegas Danil dalam keterangan tertulisnya, Minggu (29/3).

​Selain jalur pidana, LBH Jong Java juga melaporkan WD ke Pemerintah Kabupaten Pemalang agar menjadi catatan evaluasi bagi pembinaan mental aparatur desa di bawah Dispermades dan Inspektorat.

Kasus ini memicu reaksi keras dari berbagai elemen, termasuk keluarga besar Ormas 234SC Pemalang Aliansi Wartawan Pantura Bersatu, dan Aliansi Masyarakat Pemalang Bersatu, sebagai bentuk solidaritas terhadap korban dan protes atas arogansi kepemimpinan WD. (Alwi Assagaf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *