Opini
Pesawaran, publikatodays.com-
4 Juni 2026 — Praktik membakar kotoran hewan sapi dengan menggunakan minyak tanah sebagai bahan pemicu api dinilai dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik terhadap kesehatan masyarakat maupun kondisi lingkungan sekitar. Asap yang dihasilkan dari proses pembakaran tersebut berpotensi mengandung partikel halus dan gas hasil pembakaran yang dapat mengganggu kualitas udara.
Dari sudut pandang kesehatan, paparan asap pembakaran kotoran sapi dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Masyarakat yang berada di sekitar lokasi pembakaran berisiko mengalami batuk, tenggorokan gatal, sesak napas, hingga ketidaknyamanan pada mata. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat menghirup asap dalam jangka waktu tertentu.
Selain dampak kesehatan, pembakaran kotoran sapi dengan tambahan minyak tanah juga berpotensi memperburuk kondisi lingkungan. Asap yang dihasilkan dapat mencemari udara dan mengurangi kenyamanan warga sekitar. Dalam jangka panjang, praktik ini dapat berkontribusi terhadap peningkatan emisi yang berdampak pada kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara umum.
Sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan, kotoran sapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos organik atau diolah menjadi biogas yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran. Pendekatan tersebut tidak hanya membantu menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga mendukung pengelolaan limbah peternakan yang lebih berkelanjutan.
Masyarakat dan pelaku usaha peternakan diharapkan dapat mempertimbangkan metode pengelolaan limbah yang lebih aman dan bertanggung jawab. Upaya bersama untuk mengurangi praktik pembakaran terbuka dapat menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan warga serta kelestarian lingkungan di sekitar kawasan peternakan.
(Ined)
