Publika Todays.com|Garut – Pemerintah Desa Kutanagara, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, telah menyalurkan penyertaan modal kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Duta Kencana secara bertahap sejak tahun 2020 hingga 2026. Penyaluran modal ini bertujuan untuk memperkuat permodalan BUMDes agar dapat mengembangkan usaha produktif, mendorong perekonomian warga, serta meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes).


Berdasarkan keterangan Ketua BUMDes Duta Kencana, Kiki, BUMDes tersebut awalnya berdiri pada tahun 2016 dengan nama Sangkan Hurip, kemudian berganti nama menjadi Duta Kencana. Kiki sendiri baru masuk ke pengurus sebagai sekretaris pada tahun 2021, setelah ketua sebelumnya diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“BUMDes itu berdasarkan sejarahnya mungkin berdirinya tahun 2016, namanya Sangkan Hurip kemudian dirubah menjadi BUMDes Duta Kencana. Kalau saya masuk tahun 2021 sebagai sekretaris, karena ketua diangkat jadi P3K,” ujar Kiki yang juga menjabat sebagai kepala sekolah salah satu SD swasta di Kutanagara, Jumat (18/09/2026).
Sebelum ia menjabat, telah tercatat penyaluran penyertaan modal sebesar Rp110 juta, Rp130 juta, dan Rp279 juta. Pada tahun 2021 ada tambahan revitalisasi senilai Rp38 juta yang digunakan untuk pembelian mobil pengangkut sampah dan dimanfaatkan oleh pihak desa.
“Yang 38 juta dibelikan mobil sampah dan dipergunakan oleh desa. Kalau yang lainnya saya tidak tahu persis karena saya masuk di tahun 2021,” jelasnya.
Kemudian pada tahun 2025 disalurkan penyertaan modal sebesar Rp306 juta untuk program ketahanan pangan lewat BUMDes dimana dana tersebut telah dialokasikan kepada peternakan ayam serta pada 2026 sebesar Rp40 juta sebagai tambahan pengadaan ternak.
Terkait penggunaan dana tahun 2025, Kiki merinci pengadaan ternak ayam dikelola melalui dua jalur: Rp250 juta diserahkan kepada pihak ketiga sesuai kontrak, sedangkan Rp56 juta dikelola mandiri untuk persiapan kandang, pemagaran, dan penyediaan pakan.
“Uangnya saya transfer Rp250 juta, Rp56 juta saya kelola. Yang Rp20 jutanya kurang lebih untuk persiapan kandang dan pemagaran dan yang Rp30 jutanya untuk bantalan pakan,” paparnya, Juma’t (18/09/2026).

Program ini menghadirkan 1.000 ekor ayam pada 2025 dan ditambah 150 ekor pada 2026 dengan harga satuan Rp116.500. Seluruh pengadaan tersebut telah dimusyawarahkan bersama Pemerintah Desa Kutanagara.
Namun, Kiki mengaku kecewa karena kualitas ternak yang datang tidak sesuai harapan. Ayam-ayam tersebut baru mulai bertelur setelah dua bulan, padahal seharusnya siap produktif dalam waktu satu bulan.
“Karena ketika datang mungkin bukan profesional lah. Jadi si ayam itu belum siap lah, kan harusnya sebulan itu kan bertelur, ini malah dua bulan baru bertelur. Jujurlah saya kecewa lah, tapi saya tidak nyalahin juga,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kutanagara, Sanusi, ketika dikonfirmasi melalui pesan Whast Ap, terkait pelaksanaan program ketahanan pangan tahun 2025, menyatakan segala proses telah berjalan berdasarkan kesepakatan bersama.
“Itukan bagaimana kesepakatan, barang berikut ayam dan memang telah koordinasi, cuman istilahnya tidak sepenuhnya mempercayakan ke ketua BUMDes, karena memang cukup transparan lah dan itu mungkin datang langsung ke ketua BUMDes,” ungkap Sanusi, sabtu (19/09/2026).
Hingga berita ini diturunkan, belum dilakukan wawancara kepada pihak pengawas BUMDes maupun pihak ketiga CV. AZHARI TEKNIK terkait keluhan yang disampaikan Ketua BUMDes mengenai pengadaan ternak ayam petelur tersebut.














