Solo, publikatodays.com— Suasana Lebaran di kediaman Joko Widodo di Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, masih dipadati tamu hingga H+4 Idulfitri 1447 Hijriah, Rabu (25/3/2026). Sejumlah tokoh nasional tampak silih berganti datang bersilaturahmi, di tengah antusiasme masyarakat yang mengantre untuk bertemu langsung dengan mantan kepala negara tersebut.
Di antara para tamu, Ketua Umum Pro Jokowi (Projo) sekaligus eks Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi, hadir sekitar pukul 11.00 WIB. Ia datang hampir bersamaan dengan Komisaris PT Pertamina, Hasan Nasbi, yang juga memanfaatkan momen Lebaran untuk bersilaturahmi.
Pantauan di lokasi menunjukkan arus kunjungan warga tak surut. Puluhan masyarakat tampak tertib mengantre di depan rumah Jokowi yang juga dikenal sebagai ayah Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka demi berjabat tangan dan berfoto bersama.
Usai pertemuan, Budi Arie menyempatkan diri menyapa warga. Ia melayani permintaan swafoto dan bersalaman, mempertegas nuansa hangat khas Lebaran yang terasa kental di lokasi.
Kepada wartawan, Budi Arie menegaskan kunjungannya tidak membawa agenda politik. Ia menyebut pertemuan tersebut murni silaturahmi Idulfitri, terlebih Jokowi baru kembali dari Jakarta.
“Ini suasana Lebaran. Kami bersilaturahmi, saling menyampaikan minal aidzin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Tidak ada pembicaraan khusus, apalagi soal politik,” ujarnya.
Meski demikian, Budi Arie mengungkapkan bahwa Jokowi menitipkan pesan penting terkait kondisi kebangsaan. Mantan Presiden itu, kata dia, mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah dinamika nasional.
“Pak Jokowi berpesan agar kita tetap semangat menjaga persatuan Indonesia,” kata Budi Arie.
Di tengah ramainya perbincangan publik di media sosial yang menyematkan istilah “tembok ratapan” pada kediaman Jokowi, Budi Arie menyayangkan narasi tersebut. Ia menilai label itu tidak mencerminkan realitas di lapangan.
“Jangan dilihat negatif. Pak Jokowi itu pemimpin yang tetap terbuka dan bisa diakses masyarakat. Itu justru hal yang harus diapresiasi,” tegasnya.
Menurutnya, kedekatan Jokowi dengan masyarakat merupakan salah satu faktor penting di balik keberhasilannya selama memimpin Indonesia. Ia menilai pola kepemimpinan yang mendengar langsung keluhan rakyat menjadi kunci dalam pengambilan kebijakan.
“Bagaimana bisa berhasil kalau tidak mendengar langsung kondisi masyarakat? Itu yang selama ini dilakukan Pak Jokowi,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Arie juga menginformasikan rencana konsolidasi organisasi Projo secara nasional. Agenda itu meliputi pelaksanaan konferensi daerah (konferda) dan konferensi cabang (konfercab) di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari penguatan struktur organisasi.
Ia menambahkan, Projo tetap berkomitmen mendukung program pemerintah saat ini serta menjaga kesinambungan agenda pembangunan nasional.
Di luar itu, tingginya animo masyarakat yang terus berdatangan disebutnya menjadi indikator bahwa Jokowi masih memiliki kedekatan emosional dengan rakyat.
“Antusiasme masyarakat ini menunjukkan beliau tetap dekat dan terjangkau oleh rakyat,” pungkasnya.
