Polemik Pagar Roboh SDN 02 Mengori: Antara Desakan Keamanan dan Keterbatasan Anggaran Daerah, Begini Penjelasan Dindikpora

 

PEMALANG, Publikatodays.com – Lambannya respon Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pemalang terhadap kerusakan infrastruktur pendidikan memicu kekecewaan. Demi menjamin keamanan siswa, Komite SDN 02 Mengori akhirnya memutuskan untuk memperbaiki pagar sekolah yang roboh secara mandiri.

Pagar sisi selatan sekolah tersebut ambruk sejak Oktober 2025 akibat faktor usia bangunan dan cuaca ekstrem. Meski laporan dan proposal resmi telah diajukan berkali-kali, hingga kini belum ada tindakan nyata dari pihak terkait.

Perwakilan Komite Sekolah, Mulyo Ebit Susanto, menegaskan bahwa langkah swadaya ini diambil karena kondisi di lapangan sudah masuk kategori darurat.

“Kami sudah mengajukan proposal sejak masa kepemimpinan lama hingga pergantian pimpinan di Dindikbud, namun tidak ada peninjauan. Demi keamanan dan kenyamanan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), kami bergerak mandiri. Kalau menunggu perhatian dinas, mau sampai kapan?” ujar Ebit, Minggu (26/4/2026).

Ebit menambahkan, selain pagar yang sudah rata dengan tanah, terdapat bagian pagar lain yang kondisinya miring dan rawan roboh susulan. Ia mendesak pemerintah daerah untuk lebih responsif sebelum terjadi insiden yang memakan korban jiwa.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dindikpora Pemalang melalui Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dindikpora Kabupaten Pemalang, Ahmad Munawir, S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan peninjauan ke lokasi. Namun, ia menyebut pihak sekolah seharusnya bisa melakukan langkah antisipasi lebih awal.

“Dengan jumlah siswa yang cukup banyak, sebenarnya anggaran perbaikan sebesar 20% dari Dana BOS dapat digunakan untuk pemeliharaan pagar. Jangan menunggu sampai kerusakan parah atau roboh,” jelas Munawir saat dikonfirmasi terpisah.

Munawir mengungkapkan bahwa saat ini Tim Sarpras masih melakukan inventarisir terhadap proposal yang masuk. Ia menjelaskan bahwa keterbatasan anggaran fisik akibat efisiensi membuat dinas harus menetapkan skala prioritas.

“Arahan pimpinan saat ini memprioritaskan ruang kelas dan ruang guru yang rusak berat. Untuk kerusakan kategori sedang dan ringan, sekolah diarahkan mengoptimalkan dana BOS dan sumbangan sukarela masyarakat yang tidak mengikat,” pungkasnya.

Situasi di SDN 02 Mengori ini menjadi potret dilematis dunia pendidikan di daerah, di mana sekolah dituntut mandiri di tengah keterbatasan anggaran pemerintah yang lebih memprioritaskan bangunan utama ketimbang fasilitas penunjang keamanan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *