Publika Todays.com|Garut – Isu terkait pemotongan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) tahun 2025 menjadi sorotan. Bantuan yang seharusnya diterima seutuhnya oleh siswa justru di isukan ada dugaan pemootongan oleh pihak sekolah mulai dari tingkat SD hingga pendidikan kesetaraan Paket C di PKBM.
Berdasarkan informasi yang diterima, bantuan PIP untuk peserta didik Paket C di PKBM Generasi Cerdas Indonesia (GC SCHOOL) tercatat senilai Rp1.800.000 namun di informasikan hanya diterima sebagian, yakni dipotong sebesar Rp500.000. Sementara untuk tingkat SD, bantuan yang cair sebesar Rp450.000 juga mengalami hal yang sama yakni pemotongan sebesar Rp150.000 per siswa.
Selain masalah pemotongan, muncul pula keluhan terkait penyimpanan buku rekening atau tabungan PIP milik siswa. Menurut salah satu orang tua siswa pada waktu di sekolah buku tabungan tidak pada orang, ” oh buku rekening mah di bu guru pak” , singkat nya, selasa (11-08-2026).
Adapun informasi sebelum nya, buku rekening baru diserahkan saat pencairan, dan setelah uang dicairkan orang tua siswa buku rekening tersebut kembali di serah kan pihak sekolah.
“Buku tabungan PIP tidak dipegang orang tua siswa, dipegangnya hanya saat ada pencairan saja. Setelah cair, buku tabungannya dipegang lagi sama pihak sekolah. Terakhir waktu pencairan, cair Rp450.000 dipotong Rp150.000, nah kalo paket C dapat 1.8 , saya dapat imponya 1.5, di potong katanya 500, begitu pa, ” ungkap narasumber, Rabu (05/08/2026).
Kondisi ini dinilai sangat membebani, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu. Narasumber menambahkan, di antara yang terkena pemotongan terdapat anak yatim yang hidup hanya bersama ibunya dengan kondisi ekonomi sangat sulit.
“Saya merasa sedih mendengar cerita orang tua siswa itu. Di antaranya ada anak yatim yang sudah tak punya ayah, hidup bersama ibunya. Ketika bantuan PIP-nya pun ikut dipotong, sungguh menyayat hati,” tambahnya.
Saat dikonfirmasi, Kepala SD AL-KAUTSAR, Yuli, mengaku tidak mengetahui terkait program PIP.
“Operator kebetulan sedang melaksanakan kegiatan PPL. Kalau soal PIP saya tidak tahu, karena itu hak anak,” ujar Yuli secara singkat di ruang PKBM, Selasa (11/08/2026).
Sementara itu, Operator Yayasan SD Al-KAUTSAR, Deni, memberikan penjelasan berbeda. Ia menjelaskan adanya pemotongan oleh pihak sekolah dan menyebutkan potongan yang terjadi hanya sebesar Rp5.000 sebagai biaya pencetakan rekening dari bank penyalur. Menurutnya, uang bantuan diterima secara utuh oleh masing-masing siswa bersama orang tuanya.
“Kalau potongan itu ada karena menggunakan mesin edisi, jadi ada potongan Rp5.000 saja oleh Bank. Sekolah tidak memotong kecuali jika ada kewajiban pembayaran seragam atau iuran. Sebagian buku rekening disimpan di sekolah karena orang tua suka lupa, kalo seragam tidak kurang dari 100 pak”, jelas Deni.
Selain dari pada itu Deni menerangkan kehawatiran nya, tentang dana yang sudah di pegang orang tua, ” yang nama nya uang sudah di orang tua, ada yang di belikan beras, ada yang di bayarkan hutang kan kita tidak tahu”, tambah nya.
Terkait isu yang sama pemotongan PIP 500 ribu untuk PKBM GC SCHOL di paket C, Deni menegas kan, “tida ada potongan”, singkat nya.
Hingga saat ini, belum di lakukan wawancara kepada pihak komite dan pengawas untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut agar bantuan siswa miskin benar-benar diterima seutuhnya oleh siswa yang berhak tanpa ada pungutan dalam bentuk apa pun.















