Mangrove Meranti Dibabat Massal, Mantan Pekerja Bongkar Dugaan Penjualan ke Singapura

Kepulauan Meranti, Riau — Pembabatan hutan bakau (mangrove) di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, diduga telah berlangsung secara masif dan terorganisir. Aktivitas ilegal ini dinilai sebagai ancaman serius terhadap ekosistem pesisir dan berpotensi memicu abrasi pantai

Informasi tersebut diungkapkan oleh seorang mantan pekerja yang mengaku pernah terlibat langsung dalam aktivitas penebangan mangrove. Ia menyebutkan bahwa kayu bakau hasil tebangan, khususnya kayu teki (mangrove) dijual hingga ke luar negeri, tepatnya ke Singapura.

“Kayu mangrove ditebang dari Sungai Terus sampai daerah Mengkopot. Setiap minggu dikirim ke Singapura. Jalurnya dari Selatpanjang, dibawa ke perairan bawah menuju Pulau Pisang, Malaysia, sekitar pukul 03.00 atau 04:00 pagi, baru kemudian diteruskan ke Singapura,” ujar mantan artis tersebut.

Menurut pengakuannya, setiap batang kayu mangrove dibeli dengan harga sekitar 1 dolar Singapura 60 sen per batang. Dalam satu kali pengiriman, muatan mencapai sekitar 15.000 batang, dengan frekuensi pengiriman sekali dalam seminggu.

Lebih jauh lagi, ia mengungkapkan bahwa aktivitas tersebut diduga dikendalikan oleh seorang berinisial “BY”, yang disebut sebagai pihak utama yang mengoordinasikan penebangan, transportasi, hingga penjualan kayu bakau ke luar negeri.

Jika benar, praktik ini tidak hanya melanggar hukum kehutanan dan lingkungan hidup, tetapi juga mengancam keberlangsungan ekosistem pesisir Kepulauan Meranti. Mangrove memiliki fungsi vital sebagai penahan abrasi, pelindung garis pantai, serta habitat berbagai biota laut.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari aparat penegak hukum maupun instansi terkait. Awak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang disebutkan serta mendorong aparat berwenang untuk melakukan penyelidikan mendalam atas dugaan kejahatan lingkungan lintas negara ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *