Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaDaerahNasional

Jejak Sejarah FMN: Rumah di Pringsewu Disebut Menjadi Sekretariat Awal dan Pusat Konsolidasi Gerakan Mahasiswa Tahun 2004

193
×

Jejak Sejarah FMN: Rumah di Pringsewu Disebut Menjadi Sekretariat Awal dan Pusat Konsolidasi Gerakan Mahasiswa Tahun 2004

Share this article

PRINGSEWU, publikatodays.com –

Sebuah rumah di Jalan Diponegoro, Kelurahan Pringsewu Selatan, Kabupaten Pringsewu, disebut menjadi sekretariat awal sekaligus pusat konsolidasi Front Mahasiswa Nasional (FMN) Cabang Tanggamus–Pringsewu pada 2004. Informasi tersebut diperoleh dari rekonstruksi sejarah berdasarkan kesaksian sejumlah alumni dan pelaku gerakan mahasiswa yang terlibat dalam proses pembentukan organisasi tersebut.

Example 300x600

Pada saat itu, wilayah Pringsewu masih berstatus sebagai bagian dari Kabupaten Tanggamus karena Kabupaten Pringsewu belum terbentuk sebagai daerah otonom. Pembentukan FMN Cabang Tanggamus–Pringsewu berlangsung setelah Kongres Nasional I FMN di Kota Metro, Lampung, yang menjadi momentum pengembangan organisasi ke sejumlah daerah.

Berdasarkan rekonstruksi tersebut, proses perintisan organisasi dilakukan oleh mahasiswa angkatan awal Program Studi Komputer/Informatika AMIK/STMIK Dian Cendekia (DCC) Pringsewu, yakni Dani Krismanto, Bejo Handoyo, Supiyanto, dan Ayep. Dalam catatan internal organisasi, keempatnya dikenal dengan sebutan “Kuartet Pringkumpul”. Proses pembentukan cabang juga mendapat pendampingan dari FMN Koordinator Wilayah Lampung dan FMN Cabang Metro.

Rumah milik Dani Krismanto kemudian digunakan sebagai sekretariat pertama. Di lokasi tersebut berbagai kegiatan organisasi dilaksanakan, mulai dari Pendidikan Politik Dasar (PPD), diskusi kader, rapat konsolidasi, penyusunan strategi perjuangan, hingga pembuatan pamflet, buletin, dan berbagai materi organisasi menggunakan perangkat komputer yang tersedia saat itu.

Dani Krismanto mengatakan gagasan membentuk organisasi lahir dari diskusi yang rutin dilakukan di rumah tersebut.

“Setiap hari kami berdiskusi, mulai pagi, siang hingga larut malam. Topik yang dibahas beragam, mulai dari persoalan kampus, kebijakan pendidikan, hingga kondisi sosial masyarakat. Dari diskusi itulah muncul gagasan membentuk wadah organisasi gerakan mahasiswa, dan sekretariat pertamanya berada di rumah saya,” ujarnya.

Menurut Dani, sejak awal FMN Cabang Tanggamus–Pringsewu mengusung sejumlah agenda perjuangan, di antaranya menolak komersialisasi pendidikan, memperjuangkan kebebasan akademik yang demokratis, serta mendorong reforma agraria bagi petani.

Ia juga mengungkapkan bahwa keterbatasan teknologi pada 2004 menjadi tantangan dalam mendokumentasikan aktivitas organisasi.

“Pada 2004 digitalisasi masih sangat terbatas. Internet sebenarnya sudah ada, tetapi belum mudah diakses oleh mahasiswa. Dokumentasi masih kami simpan secara sederhana menggunakan komputer Pentium 4 dan media penyimpanan seperti flashdisk. Dengan fasilitas yang sangat terbatas, kami tetap berusaha menjalankan organisasi. Alhamdulillah semua berjalan dengan baik dan tidak mengurangi semangat kami untuk tetap solid, militan, dan progresif,” katanya.

Minimnya akses teknologi pada masa itu menyebabkan dokumentasi aktivitas organisasi tidak banyak dipublikasikan. Sebagian arsip disimpan secara internal sebagai bentuk kehati-hatian terhadap kemungkinan tekanan maupun sanksi akademik yang dikhawatirkan dapat dialami para aktivis mahasiswa pada periode tersebut.

Rekonstruksi sejarah yang disusun berdasarkan kesaksian para pelaku dan alumni itu diharapkan dapat menjadi bagian dari dokumentasi sejarah gerakan mahasiswa di Pringsewu.

Selain itu, dokumentasi tersebut juga diharapkan menjadi referensi awal bagi penelitian lebih lanjut melalui penelusuran arsip, dokumen, serta sumber-sumber sejarah lainnya.

(Ined)

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *