Publika Todays.com|Garut – Forum Kecamatan Sehat se-Kabupaten Garut menggelar Pembinaan Penyelenggaraan Kabupaten Garut Sehat dalam rangka memantapkan persiapan menuju penghargaan Swasti Saba Wistara pada tahun 2027. Kegiatan berlangsung di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Jalan Proklamasi Nomor 7, Desa Jayaraga, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut pada pada Rabu (12/8/2026).
Pembinaan dipimpin langsung oleh
Ketua Forum Kabupaten Garut Sehat (FKGS), Risan Sugiayasin, S.Pd., MM. Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kelembagaan serta memvalidasi data guna pengusulan titik pantau atau lokus yang mencakup sembilan tatanan di seluruh 42 kecamatan di Garut Jawa Barat.
Dalam pemaparannya, Risan menjelaskan bahwa penyelenggaraan Kabupaten Sehat bertujuan mewujudkan wilayah yang bersih, nyaman, aman, dan sehat sebagai tempat tinggal. Tujuan tersebut diupayakan melalui penerapan sembilan tatanan yang disusun berdasarkan kesepakatan antara masyarakat dan pemerintah daerah secara terpadu.
“Kabupaten Sehat bukan hanya tugas Dinas Kesehatan semata. Ini merupakan pendekatan lintas sektor untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui kemitraan, pemberdayaan, serta menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan kesehatan,” tegas Risan.
Pembinaan ini menekankan pada tiga komponen utama, yaitu individu, masyarakat, dan lingkungan. Ketiga unsur tersebut kemudian diturunkan menjadi sembilan tatanan lengkap dengan indikator dan titik lokus pengawasan, meliputi:
– Tatanan Kehidupan Masyarakat Sehat Mandiri — 28 indikator, meliputi Posyandu dan Puskesmas;
– Tatanan Permukiman dan Fasilitas Umum — 26 indikator, mencakup pengelolaan sampah, air minum, dan bank sampah.
– Tatanan Pasar — 12 indikator, meliputi pasar sehat, kawasan tanpa rokok, sanitasi, dan pengelolaan limbah.
– Tatanan Satuan Pendidikan — 11 indikator, meliputi sekolah ramah anak, usaha kesehatan sekolah, dan sekolah peduli lingkungan.
– Tatanan Pariwisata — 13 indikator, mencakup objek wisata, penginapan, dan rumah makan.
– Tatanan Transportasi dan Tertib Lalu Lintas — 16 indikator, meliputi terminal, jalur sepeda, dan tempat penantian.
– Tatanan Perkantoran dan Perindustrian — 14 indikator, meliputi lingkungan kantor pemerintah, kawasan industri, dan upaya kesehatan kerja.
– Tatanan Perlindungan Sosial — 19 indikator, meliputi pusat pelayanan perlindungan anak dan panti pelayanan sosial.
– Tatanan Pencegahan dan Penanganan Bencana — 11 indikator, berupa desa tangguh bencana.
Risan juga memaparkan susunan kelembagaan Kabupaten Garut Sehat yang kini beranggotakan 5.959 orang. Susunannya meliputi Pengurus Tingkat Kabupaten sebanyak 25 orang berdasarkan Surat Keputusan Bupati, Pengurus Tingkat Kecamatan di 42 kecamatan masing-masing beranggotakan 15 orang berdasarkan Surat Keputusan Camat, serta Kelompok Kerja di 442 desa dan kelurahan masing-masing beranggotakan 12 orang berdasarkan Surat Keputusan Kepala Desa atau Lurah.
Ia menambahkan, keanggotaan forum sebaiknya berasal dari unsur masyarakat, bukan pegawai negeri semata, melainkan melibatkan akademisi, organisasi kemasyarakatan, tokoh profesi, pengusaha, lembaga swadaya masyarakat, pers, dan tokoh masyarakat.
“Kelembagaan yang kokoh diperlukan guna merencanakan, mengoordinasikan, memantau, serta menjamin keberlanjutan program,” ujarnya.
Meski demikian, Risan juga mengakui masih adanya kendala berupa pemahaman yang belum merata, kapasitas kelembagaan, keterbatasan sumber daya manusia, serta partisipasi masyarakat yang perlu terus ditingkatkan. Oleh sebab itu, Tim Pembina Kabupaten yang diketuai Sekretaris Daerah bertugas melakukan pendampingan serta penilaian mandiri secara berkala.
Untuk meraih penghargaan Swasti Saba Wistara, Kabupaten Garut wajib memenuhi batas nilai kelayakan kelembagaan serta capaian kesembilan tatanan, salah satunya menjamin persentase Surat Keputusan pembentukan forum minimal mencapai 80 persen dari seluruh kecamatan dan desa-kelurahan.
“Penelitian tahun 2023 membuktikan bahwa wilayah yang menjalankan program Kabupaten Sehat memiliki indeks pembangunan kesehatan masyarakat, indeks kesejahteraan sosial, dan indeks kualitas lingkungan yang lebih baik. Dengan mengatasi hambatan dan melakukan pemantauan serta evaluasi secara berkelanjutan, kami yakin Garut mampu meraih cita-cita tersebut,” papar Risan penuh harap.
Kegiatan ditutup dengan kesepahaman untuk memperkuat koordinasi, kerja sama, dan sinergi antarberbagai pihak, agar setiap usulan titik pantau yang dikirimkan dari kecamatan benar-benar disusun berdasarkan data yang akurat serta kebutuhan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.















