Publika Todays.com|Garut— Program bantuan Indonesia Pintar (PIP) bagi siswa kurang mampu di tiga lembaga madrasah — MI, MTs, dan MA di bawah naungan Yayasan Aulia Darusalam, yang berlokasi di Kp. Kubang Angsana RT 001 RW 002 Desa Sukamulya Kec. Pakenjeng, Kabupaten Garut, kini menjadi sorotan tajam. Bantuan yang seharusnya diterima siswa kurang mampu atau miskin secara utuh justru diduga telah di sunat oleh pihak kepala sekolah di masing-masing madrasah saat proses pencairan dilakukan bersama bendahara.
Berdasarkan keterangan salah satu narasumber yang tidak ingin di seebut namanya pada, Selasa (21/7/2026), bahwa mekanisme pencairan PIP berjalan secara kolektif dan sudah lama berlangsung yang sampai saat ini telah dikuasai pihak sekolah/ madrasah (MA, MTs dan MI).
“Kalau di Aulia, orang tua siswa dari MA, MTs, maupun MI suka dikumpulkan. Pencairannya juga kan suka dikolektif oleh kepala madrasah masing-masing pa,, ya sama bendahara. Saat itu kan uang langsung dipotong pak, pembagiannya pun diam-diam ko. Nah makanya orang tua sebenarnya banyak yang mengeluh pak di belakang, di depan memang tidak ada yang berani bicara pak,” ungkap narasumber tersebut, Selasa (21/7/2026),
Keluhan pemotongan bantuan ini ternyata bukan hal baru. Sumber yang sama menyebutkan kasus serupa pernah ramai jadi perbincangan para orang tua di salah satu lembaga pendidikan seperti MTs, namun para orang tua akhirnya memilih bungkam karena rasa takut imbas terhadap anak nya.
“Dulu kasus pemotongan PIP di MTs juga memang pernah ramai pak. Namun orang tua khawatir anaknya menjadi sasaran atau diperlakukan berbeda lah di sekolah, akhirnya ya memilih diam,” tambahnya singkat.
Hingga berita ini diturunkan, Ketua Yayasan Aulia Darusalam S Anwar Permana, pimpinan lembaga pendidikan MA, MTs (Ceceng), dan MI, hanya mengatakan singkat ketika di hubungi lewat aplikasi Whast Ap, ” silah kan hubungi yang bersangkutan pak”, singkat nya, selasa (21/07/2026).
Namun para kepala sekolah MI, MTs dan MA serta operator yayasan (Diki)yang juga merupakan anak dari ketua yayasan, belum memberikan tanggapan apa pun ketika di hubungi lewat aplikasi Whast Up, Awak media telah berupaya menghubungi pihak terkait, namun hingga saat ini belum ada jawaban.
Masyarakat berharap pihak berwenang, baik Depag Kabupaten Garut dan kasi PENMAD maupun Kementerian Agama, segera melakukan pengecekan dan klarifikasi agar bantuan yang bersumber dari negara benar-benar diterima seutuhnya oleh siswa tidak mampu yang berhak tanpa ada pemotongan dalam bentuk apa pun.















