Publika Todays.com|Garut – Peristiwa mengejutkan terjadi di lingkungan lembaga pendidikan SMKN 2 Garut, Provinsi Jawa Barat, setelah beberapa siswi dikabarkan mengalami pemotongan rambut oleh guru
Tindakan tersebut dilakukan karena dianggap melanggar aturan sekolah akibat mewarnai rambut, yang diawali dari pemeriksaan rangkapan kerudung atau yang biasa disebut dengan “ciput”.

Ketika di konfirmasi Publika Todays.com pada sabtu (02-05-2026), mereka mengatakan dengan kompak tentang kronologis atas kejadian tersebut, dan salah satu siswa menceritakan tentang kebenaranya.
” Beres olah raga terus makan MBG, tiba-tiba ada ketua jurusan masuk kekelas bawa gunting, pertama kan cek ciput trus di tulis, tiba tiba di gunting dijemol pak”, tandas salah satu siswi yang enggan disebut namanya, Sabtu (02-05-2026).
Insiden yang terjadi pada hari kamis kemarin (30-04-2026) langsung memicu reaksi keras dari sejumlah wali murid dan menjadi perbincangan hangat di jagad maya. Banyak pihak menilai bahwa tindakan tersebut bukan lagi sekadar penegakan disiplin sekolah, melainkan berpotensi masuk dalam kategori tindakan yang mempermalukan dan berisiko melukai kondisi mental anak di lingkungan pendidikan, khususnya bagi para siswi yang menjadi korban.
Meski ada yang berasumsi bahwa pemotongan rambut tersebut untuk mendisiplin kan siswi dari hal yang negatip seperti rambut yang diwarnai.

Menurut pengakuan dari orang tua salah satu korban yang ditemui pada hari Sabtu (02-05-2026), di Kecamatan Tarogong Kaler, mengakui bahwa kejadian ini sangat menyakitkan hati dan membuat anaknya menjadi was-was untuk kembali mengikuti sekolah.
Bahkan, kondisi yang lebih miris terjadi pada salah satu siswi yang mengalami trauma hingga mengalami depresi saat ini.
“Saya kira hanya sebagian kecil rambut saja yang di potong, saya juga sempet negur ke anak karena urusan rajia rambut di sekolah itu sudah biasa, tapi pas anak buka kerudung di rumah saya dan istri kaget, kenapa mesti begini, nah dari situ saya pun langsung bergegas kesekolah mau ngebahas kejadian ini tapi sudah pada kosong,” tandas orang tua korban tersebut.

Curhatan para siswa dan siswi tersebut telah disampaikan kepada Ketua BEM STAINUS Garut, A. Hapid Ali, beserta jajaran BEM lainya saat mengunjungi salah satu rumah korban, dan meminta Pihak BEM STAINUS untuk mendampingi Permasalahan ini sampai tuntas
Kasus yang terjadi di SMKN 2 Garut memberikan dampak yang signifikan bagi para wali murid dan siswa. Banyak di antara mereka menyampaikan bahwa kejadian ini sangat memukul dan menginginkan adanya pihak yang membela mereka atas rasa ketidakadilan yang dirasakan, serta adanya teguran yang tegas kepada pelaku.
(R. Santosa)
