Semarang, publikatodays.com— Dugaan tindakan intimidasi terhadap pedagang kaki lima (PKL) kembali mencuat di Kota Semarang. Kali ini sorotan tertuju kepada oknum Dinas Perdagangan Kota Semarang bernama Kardiman alias Boy yang diduga mengutus lima petugas lapangan untuk mendatangi kawasan PKL Batan Selatan dan mencari-cari kesalahan salah satu pengurus pedagang yang sebelumnya melakukan audiensi ke DPRD Kota Semarang pada Jumat lalu.
Ironisnya, dalam dugaan operasi tersebut,5 orang mengaku diutus oleh kardiman alias “Boy” nama yang digunakan di plakat identitas disebut bukan nama asli. kelima orang tersebut bernama Febri,Yuli,Adjie,Arka dan Haris
Berdasarkan penuturan Febri( Anggota kardiman) yang berada di lokasi, rombongan awalnya menuju kawasan Jangli sebelum akhirnya diarahkan ke Batan Selatan oleh salah satu petugas lainya bernama Yuli. Dalam keterangannya, Yuli disebut menyampaikan bahwa kedatangan mereka merupakan instruksi langsung dari Kardiman alias Boy.
Situasi di lapangan yang terjadi adalah penekanan,yang dialamatkan ke salah satu pengurus paguyuban,Tn pemakai lapak no 39 disuruh mengakui bahwa lapak tersebut diperjualbelikan oleh pengurus yang dituju oleh Dinas perdagangan kota semarang.
karena disiang hari baru bertemu saya dengan ( kardiman) tetapi anehnya tiba tiba sore dapat kabar ada intimidasi dari anggota Binus ke Pkl batan selatan dan ternyata orangnya kardiman alias boy terang Yos aringga pengurus Pkl batan selatan.
“tupoksi datang ke Batan untuk mengintimidasi pedagang,dan mencari kesalahan salah satu pengurus disini.karena ini ranahnya intimidasi,kami akan berkonsul dengan Advokasi kami jika ada muatan hukum,pasti akan kami laporkan semua,tegas yos.
Pernyataan itu bahkan diperkuat dengan pengakuan Febri ( anggota Binus) yang mengakui bahwa itu kesalahan serta meminta maaf kepada pengurus pkl batan lewat sambungan telefon.
Situasi semakin menegangkan ketika Febri, salah satu pegawai dinas perdagangan ketika dikonfirmasi lewat sambungan telepon disebut merasa takut hingga Hanphone Febri diambil alih Kardiman. Namun alih-alih meredam situasi, Boy justru disebut menantang dan tidak menerima pernyataan dari pihak pedagang,dengan mengatakan tidak terima,pengurus batan pun akhirnya meradang dan mengatakan malah kebetulan jika anda tidak terima,pungkas yos
Sejumlah pedagang menilai tindakan tersebut bukan lagi pembinaan, melainkan bentuk tekanan dan intimidasi terhadap pedagang kecil yang selama ini berjuang mencari nafkah.
Kardiman sendiri disebut sempat mengakui adanya kesalahan dan kelalaian dalam kejadian tersebut. Namun pengakuan itu dinilai belum cukup menjawab keresahan pedagang yang merasa diteror pasca audiensi dengan DPRD Kota Semarang.
Beberapa pedagang menduga tindakan tersebut berkaitan dengan upaya mengejar target pendapatan Dinas Perdagangan Kota Semarang yang disebut mencapai Rp100 miliar per tahun. Dugaan itu memunculkan kekhawatiran bahwa pendekatan represif mulai digunakan terhadap PKL demi kepentingan pendapatan daerah.
“Kalau mencari kesalahan pedagang sampai menggunakan pola intimidasi dan teror, ini sudah sangat berbahaya,” ujar salah satu pedagang PKL Batan.
Pedagang juga mengaku pola tekanan mulai terasa sejak mereka melakukan audiensi dengan DPRD Kota Semarang beberapa hari sebelumnya. Karena itu, kasus ini kini mulai dibahas bersama tim advokasi paguyuban pedagang.
Jika ditemukan adanya unsur pelanggaran hukum, para pedagang menyatakan siap membawa persoalan tersebut ke jalur hukum dan melaporkan pihak-pihak yang terlibat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Wali Kota Semarang terkait dugaan intimidasi tersebut.
DIDUGA INTIMIDASI PEDAGANG PKL BATAN, KARDIMAN”BOY” DINAS PERDAGANGAN KOTA SEMARANG JADI SOROTAN
