Batam, publikatodays.com – Di tengah kekhawatiran global terhadap potensi fenomena “Godzilla El Nino” yang diprediksi mencapai puncaknya pada April 2026, kondisi di Batam justru menunjukkan tanda bahaya yang lebih dulu menyala. Krisis air di kota industri ini tak lagi sekadar ancaman, melainkan realitas yang sudah berlangsung – perlahan, namun pasti.
Sejumlah waduk utama di Batam mengalami penyusutan volume air yang signifikan. Di Waduk Mukakuning, misalnya, ketinggian air dilaporkan turun hingga 2,4 meter di bawah level normal. Sementara itu, kondisi serupa juga terjadi di Waduk Sei Harapan dan Waduk Nongsa. Penyusutan ini menjadi alarm serius bagi kota yang sepenuhnya bergantung pada waduk sebagai sumber air bersih.
Namun persoalan ini tak bisa semata-mata disandarkan pada faktor alam. Di balik menurunnya kapasitas tampung air, terdapat masalah struktural yang telah lama terjadi- kerusakan Daerah Tangkapan Air (DTA) akibat aktivitas pembukaan lahan yang masif dan tak terkendali. Kawasan seperti Bukit Vista dan sejumlah area resapan lainnya kini kehilangan fungsi ekologisnya.
Alih fungsi lahan dari kawasan hijau menjadi area pembangunan membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Saat hujan turun, air tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir membawa material erosi ke waduk. Dampaknya, sedimentasi terjadi secara masif dan mempercepat proses pendangkalan. Waduk yang seharusnya menjadi penyangga utama kebutuhan air justru kehilangan kapasitasnya secara perlahan.
Di sisi lain, ancaman El Nino tetap menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Fenomena ini berpotensi meningkatkan suhu global dan mengurangi curah hujan secara drastis. Jika kondisi waduk di Batam sudah kritis sebelum puncak El Nino terjadi, maka risiko krisis air berskala besar menjadi semakin nyata.
Situasi ini menempatkan Batam pada persimpangan penting. Pembangunan yang terus digenjot demi pertumbuhan ekonomi berhadapan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat akan air bersih.
Tanpa pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, laju pembangunan justru berpotensi mempercepat datangnya krisis.
Kini pertanyaannya bukan lagi apakah Batam akan menghadapi krisis air, melainkan seberapa besar dampaknya dan seberapa siap kota ini menghadapinya. Jika kerusakan Daerah Tangkapan Air terus dibiarkan, maka “bencana” itu bukan lagi sekadar prediksi – melainkan sesuatu yang tinggal menunggu waktu.
