Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Advertorial

Sekda Batam Dorong Anak Muda Jadi Pelaku Utama Ekonomi Digital

7
×

Sekda Batam Dorong Anak Muda Jadi Pelaku Utama Ekonomi Digital

Share this article

Batam, publikatodays.com— Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batam, Firmansyah, mendorong generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu tampil sebagai pencipta inovasi sekaligus pelaku utama ekonomi digital.

Pesan tersebut disampaikan Firmansyah saat mewakili Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra dalam kegiatan Digital Financial Literacy (DFL) bertema “Ekosistem ITSK, Pengenalan Kripto, RWA, dan Stablecoin” di Politeknik Negeri Batam, Senin (31/8/2026).

Example 300x600

Menurut Firmansyah, perkembangan teknologi telah membawa perubahan besar terhadap ekosistem keuangan. Teknologi kini tidak sekadar menjadi alat bantu, tetapi telah mengubah cara masyarakat bertransaksi, berinvestasi, mengelola aset, hingga menciptakan nilai ekonomi baru.

Karena itu, perkembangan Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), aset kripto, tokenisasi Real-World Assets (RWA), dan stablecoin perlu dipahami secara menyeluruh.

Pemahaman tersebut, kata dia, harus mencakup peluang sekaligus risiko, mulai dari keamanan platform, fundamental aset, risiko investasi hingga aspek legalitas.

“Jangan sampai karena fomo, kita mengambil keputusan finansial tanpa memahami fundamental aset, risiko investasi, keamanan platform, maupun legalitasnya,” ujar Firmansyah.

Inklusi Tinggi, Literasi Masih Perlu Diperkuat

Firmansyah menyebut peningkatan akses terhadap produk keuangan harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam mengambil keputusan finansial secara bijak.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026, indeks inklusi keuangan nasional mencapai 93,61 persen, sedangkan tingkat literasi keuangan berada di angka 69,57 persen.

Pada kelompok usia 18–25 tahun, tingkat inklusi keuangan mencapai 95,69 persen, sementara literasinya sebesar 73,32 persen.

Adapun pada kelompok pelajar dan mahasiswa, inklusi keuangan tercatat 92,76 persen, sedangkan tingkat literasinya baru 62,72 persen.

“Artinya, anak muda kita sudah semakin dekat dengan produk dan layanan keuangan, tetapi belum semuanya punya pemahaman yang memadai tentang bagaimana menggunakannya secara bijak,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama. Kemudahan mengakses berbagai produk dan layanan keuangan tidak boleh membuat masyarakat mengabaikan risiko.

Batam Harus Melahirkan Inovator Digital

Firmansyah menilai posisi Batam sebagai pusat industri, perdagangan, jasa, dan investasi memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk berkembang di sektor ekonomi digital.

Mahasiswa, menurutnya, harus mampu memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menciptakan peluang sekaligus menghasilkan nilai ekonomi baru.

“Saya berharap mahasiswa Batam tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi pencipta inovasi dan pelaku ekonomi digital,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah mengikuti sesuatu hanya karena sedang menjadi tren.

“Jangan hanya bertanya, apa yang sedang tren. Tetapi bertanyalah, apa yang fundamental, apa risikonya, dan bagaimana teknologi ini bisa menciptakan nilai,” ujarnya.

Firmansyah menegaskan, literasi keuangan bukan hanya soal memahami istilah atau produk keuangan. Lebih jauh, literasi merupakan kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan secara bijak di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung cepat.

Untuk membangun ekosistem tersebut, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perguruan tinggi, industri, dan generasi muda.

Kolaborasi itu diharapkan mampu menciptakan ekosistem keuangan digital yang inovatif, aman, inklusif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.

Di akhir sambutannya, Firmansyah mengapresiasi OJK atas terselenggaranya kegiatan Digital Financial Literacy. Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi mampu melahirkan generasi muda Batam yang cakap secara digital, matang secara finansial, serta siap mengambil peran dalam ekonomi masa depan.

“Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang cepat mengikuti perkembangan teknologi. Batam harus mampu melahirkan generasi muda yang menciptakan inovasi, membuka peluang, dan mengambil peran dalam menentukan arah ekonomi digital,” pungkasnya.

 

Example 300250

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *