Batam, publikatodays.com— Kota Batam kembali menjadi perhatian nasional sebagai daerah rujukan pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (FTZ). Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan kunjungan resmi ke Batam untuk mempelajari strategi pengembangan kawasan FTZ yang dinilai berhasil mendorong pertumbuhan investasi dan ekonomi daerah.
Pertemuan berlangsung di Kantor Wali Kota Batam, Senin (11/5/2026), saat Wali Kota Batam Amsakar Achmad bersama Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra menerima kunjungan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena.
Dalam dialog tersebut, Pemerintah NTT menyampaikan ketertarikannya menjadikan wilayahnya sebagai kawasan FTZ baru karena dinilai memiliki posisi strategis yang berbatasan langsung dengan Timor Leste dan dekat dengan Australia.
“Kami ingin belajar dari Batam yang sudah lama menjadi kawasan FTZ dan terbukti memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu kami datang untuk mendengar langsung pengalaman Batam,” ujar Emanuel.
Menanggapi hal itu, Amsakar menegaskan bahwa keberhasilan kawasan FTZ tidak hanya bergantung pada status kawasan semata, melainkan juga ditentukan oleh kemudahan regulasi, pelayanan investasi yang cepat, serta dukungan digitalisasi perizinan.
Menurutnya, investor sangat mempertimbangkan kepastian hukum dan efisiensi pelayanan sebelum menanamkan modal di suatu daerah.
Selain membahas investasi, kedua pihak juga mendiskusikan tantangan logistik dan konektivitas antarwilayah kepulauan. Gubernur NTT mengungkapkan tingginya biaya distribusi barang masih menjadi persoalan utama yang menghambat pertumbuhan ekonomi di wilayahnya.
Amsakar kemudian menawarkan peluang kolaborasi di sektor kemaritiman. Ia menyebut Batam memiliki sekitar 135 perusahaan galangan kapal yang dinilai mampu mendukung kebutuhan transportasi laut di NTT.
“Jika ada peluang pengoperasian kapal di NTT, tentu ini bisa menjadi ruang kerja sama yang baik. Industri galangan kapal di Batam cukup besar dan dapat mendukung kebutuhan daerah kepulauan,” jelas Amsakar.
Tidak hanya sektor ekonomi dan transportasi, pertemuan tersebut juga membahas peluang promosi budaya dan produk unggulan NTT di Batam. Kehadiran sekitar 40 ribu warga NTT yang tinggal di Batam dinilai menjadi jembatan strategis dalam mempererat hubungan kedua daerah.
Pemerintah NTT berharap kerja sama dengan Batam nantinya dapat membuka pasar baru bagi produk lokal, memperkuat UMKM, serta meningkatkan pengembangan sektor perdagangan dan industri kecil menengah.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT, Zet Sony Libing, menyebut pertumbuhan ekonomi NTT saat ini mencapai 4,32 persen dengan inflasi sebesar 2,64 persen. Namun tingginya biaya distribusi akibat jalur logistik yang masih bergantung melalui Surabaya dan Makassar menjadi tantangan besar bagi daerah tersebut.
Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan kerja sama strategis antara Batam dan NTT di bidang investasi, perdagangan, kemaritiman, hingga pengembangan budaya daerah.
Batam Jadi Rujukan FTZ Nasional, Amsakar Bahas Kerja Sama Strategis dengan NTT
